Mistis Kampung Se Bimo, Hanya Dihuni Tujuh Rumah di Desa Brokoh Batang

  Rabu, 14 Oktober 2020   Muslihun
Kepala Desa Brokoh bersama perangkatnya saat meninjau Dukuh Se Bimo yang mitosnya hanya dihuni oleh 7 rumah.(Muslihun/Kontributor Batang)

BATANG, AYOBATANG.COM -- Ada cerita mistis di Dusun Se Bimo Desa Brokoh Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang Jawa Tengah dan memiliki situs arca Batu Gajah peninggalan Hindu Dukuh Se Bimo memang tidak jauh dari kota Batang tepatnya 15 km dari pusat kota, namun dukuh yang dihuni hanya 6 rumah tersebut memiliki mitos dan cerita yang menarik untuk ditelisik.

Walaupun dukuh tersebut masuk Desa Brokoh tetapi berada di tengah hutan pinus milik Perhutani dengan aura yang berbeda.

Hingga kini warga penghuni Dukuh Se Bimo tidak berani mendiami lebih dari tujuh rumah.

Kalau sampai lebih dari tujuh rumah pasti akan ada masalah dan berbagai kejadian menimpa warga.

Kepala Desa Brokoh, Mukmin mengatakan Dukuh Se Bimo memang jauh dari tempat perdukuhan yang lain dan di lingkungan atau tengah hutan Pinus milik Perhutani. 

Menurut cerita dari turun temurun ada mitos, bahwa penghuni atau warga di sini hanya bisa menghuni tujuh rumah saja.

"Maksimal warga hanya menghuni 7 rumah, dan kenyataan yang ada sekarang hanya 6 rumah," kata Mukmin, saat diwawancari Ayosemarang.com, Rabu (14/10/2020). 

Ia pun menuturkan kalau lebih dari 7 rumah biasanya akan terjadi permasalahan dan kejadian yang aneh menimpa warga.

"Permasalahannya bermacam-macam, kebetulan orang yang bangun rumah di sini bisa dipastikan ada orang yang hengkang dan keluar dari dukuh Se Bimo. Kejadian ini sudah banyak sekali," tutur Mukmin.

Dijelaskan pula, di dukuh ini pernah dihuni oleh 12 rumah dan permasalahannya pun datang selih berganti.

"Ada warga yang tidak tahu apa-apa menghuni di sini dengan permasalahannya apa tahu-tahu meninggal dunia dengan tragis kondisi tergantung," ungkapnya.

Tidak hanya itu, pernah kejadian juga warga dukuh Se Bimo yang meninggal dunia di tengah hutan dengan meminum obat racun tikus.

"Untuk sementara ini jumlah penduduk di dukuh sini ada 22 orang dengan 8 Kepala Keluarga (KK) dengan mata pencaharian sebagai pengrajin ceting atau wakul dan mencari kayu bakar," jelasnya.

Kalau 6 rumah yang berada di Dukuh Se Bimo sejak tahun 1980. Sebelumnya memang pernah ada lebih dari 7 rumah di tahun 1970 seperti yang ceritakan tadi, lanjutnya.

"Mitos ini yang sampai sekarang dipercayai oleh warga dan berakibat di era sekarang belum bisa memanfaatkan PLN secara maksimal. Sehingga listriknya menyalur ke dukuh sebelah sampai 1 km lebih," ungkapnya.

Mundriyah (45) warga Dukuh Se Bimo membenarkan mitos tersebut yang mempercayai karena jiwanya sudah berada menyatu dengan alam sekitarnya.

"Saya percaya karena yang menjaga bumi di sini tidak boleh banyak - banyak. Kalau lebih dari tujuh yang menjaga di sini akan menampakan diri," katanya.

Ia pun mengakuinya dengan tidak sengaja melihat makhluk yang menjaga di dukuh tersebut.

"Makhluknya seperti orang tapi badannya tinggi hitam dengan jari tangannya besar dan kuku panjang, kalau menampakkan diri biasanya minta air minum dan roko, biasanya kalau menampakkan di hari Jumat Kliwon bulan syuro," jelasnya.

Permintaan makhluk penghuni di sini minta dukuhnya sepi, asem dan sejuk tidak ada orang banyak.

"Kalau makhluk penghuni mau menampakkan hawanya dingin membawa bau wewangian," jelasnya.

Sementara Mbah Tarji (93) saksi hidup warga Dukuh Se Bimo mebenarkan cerita mistis, dan karena tidak kuat menghuni rumah di dukuh tersebut ia memilih pindah di Duku Sikandak.

"Saya lahir dan besar di Dukuh Se Bimo, yang lahir pada tahun 1927, dan pindah ke dukuh Sikandak tahun 1982 karena tidak kuat dan tidak kerasan," katanya. 

Ia pun menyatakan, Dukuh Se Bimo dari zaman penjajahan Belanda aman, apalagi Jepang tanahnya subur makmur dan aman asalkan Jumlah rumahnya tidak sampai lebih dari 7 rumah.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar